Yuk…! Bayar #Zakat

Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU DI Yogyakarta menggelar kampanye sadar zakat di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta, Jumat (4/9/2009). | Kompas/Wawan H Prabowo

Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU DI Yogyakarta menggelar kampanye sadar zakat di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta, Jumat (4/9/2009). | Kompas/Wawan H Prabowo

Bismillaahirrohmaanirrohiim

=======================================================

PENDAHULUAN

Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk memiliki kepedulian terhadap kaum dhuafa dengan menolong, membantu dan meringankan beban hidup mereka. Perbuatan tersebut termasuk salah satu kewajiban yang mesti dilakukan, firman Allah SWT: ”…dan saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 3)

Untuk memudahkan jalan bagi kaum muslimin dalam membantu kaum dhuafa, Islam menetapkan adanya syariat zakat, infak dan shadaqah. Dalam sejarah Islam, konsep zakat membuktikan bukan hanya dapat meringankan beban kaum dhuafa tetapi juga mampu menjadi salah satu tonggak dalam mengentaskan kefakiran dan kemiskinan. Dan itulah visi zakat, “merubah mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pembayar zakat)”.

“Ambillah zakat dari sebagian harta orang kaya sebagai shadaqah (zakat), yang dapat membersihkan harta mereka dan mensucikan jiwa mereka do’akanlah mereka karena sesungguhnya do’amu dapat memberi ketenangan bagi mereka. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103)

Zakat secara bahasa artinya tumbuh dan berkembang, sedangkan secara istilah adalah mengeluarkan sebagian harta dalam waktu tertentu (haul atau ketika panen), nilai tertentu (2.5%, 5%, 10% atau 20%) dan sasaran tertentu (faqir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharimin, fii sabilillah dan ibnu sabil).

”Sesungguhnya shadaqah (zakat) itu hanyalah untuk faqir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharimin, fii sabilillah dan ibnu sabil.” (QS. At-Taubah: 60)

Zakat juga berfungsi untuk :
1. Membersihkan jiwa dari sifat bakhil, selfish dan menyembah harta
2. Membersihkan harta dari terkontaminasi hak orang lain
3. Zakat berfungsi memperkembangkan harta
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. Bersabda yang artinya ”Tidak akan berkurang harta yang dikeluarkan untuk bershadaqah.”

====

LANDASAN SYAR’I

Al-Quran
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariat: 19)
“Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” (QS. Al-Hadid: 7)
“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah (zakatkanlah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, …” (QS. Al-Baqarah: 267)

Al-Hadits
“Bila suatu kaum enggan mengeluarkan zakat, Allah akan menguji mereka dengan kekeringan dan kelaparan.” (HR. Thabrani)
“Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan merusak harta itu.” (HR. Al-Bazar dan Baehaqi)

Ijma’
Kesepakatan ulama baik salaf maupun khalaf bahwa zakat merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam dan haram mengingkarinya.

====

ANCAMAN BAGI ORANG YANG TIDAK BERZAKAT

Firman Allah SWT :
“Dan orang-orang yang tidak menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalanAllah swt. maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari itu dipanaskan emas dan perak tersebut di neraka jahanam, lalu disetrika dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka: ”Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) harta yang kamu simpan”.” (QS. At-Taubah: 34-35).

====

POTENSI ZAKAT

Pada masa dulu zakat yang dikumpulkan di Baitulmaal (Lembaga Amil Zakat pada saat itu) sangat berpotensi untuk mengentaskan kemiskinan, pada masa Umar bin Khattab, Muaz bin Jabal yang menjabat sebagai Gubernur di Yaman, ditunjuk untuk menjadi Ketua Amil Zakat disana. Pada tahun pertama Muaz bin Jabal mengirimkan 1/3 dari surplus dana zakat ke pemerintahan pusat, lalu dikembalikan ke Yaman oleh beliau. Pada tahun ke 2, Muaz mengirimkan ½ dari surplus dana zakat yang terkumpul di baitulmaal. Dan pada tahun ketiga semua dana zakat dikirimkan ke pemerintahan pusat, karena sudah tidak ada lagi orang yang mau menerima dana zakat dan merasa sebagai mustahik, akhirnya dana tersebut dialihkan pemanfaatannya ke daerah lain yang masih minim.

Hal tersebut terjadi juga pada masa Umar bin Abdul Aziz, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Ubaid, bahwa Gubernur Baghdad Yazid bin Abdurrahman mengirim surat kepada Amirul Mukminin tentang melimpahnya dana zakat di baitulmaal karena sudah tidak ada lagi yang mau menerima zakat. Lalu Umar bin Abdul Aziz memerintahkan untuk memberikan upah kepada mereka yang biasa menerima upah, dijawab oleh Yazid, “kami sudah memberikannya tetapi dana zakat begitu banyak di baitulmaal”, lalu Umar bin Abdul Aziz menginstruksikan untuk memberikan dana zakat tersebut kepada mereka yang berhutang dan tidak boros. Yazid pun berkata, “kami sudah bayarkan hutang-hutang mereka, tetapi dana zakat begitu banyak di baitulmaal”, kemudian Umar bin Abdul Aziz memerintahkan agar ia mencari orang lajang yang ingin menikah agar dinikahkan dan dibayarkan maharnya, dijawab lagi “kami sudah nikahkan mereka dan bayarkan maharnya tetapi dana zakat begitu banyak di Baitul Maal”. Akhirnya Umar bin Abdul Aziz memerintahkan agar Yazid bin Abdurrahman mencari seorang yang mempunyai usaha dan kekurangan modal, lalu memberikan mereka modal tambahan tanpa harus mengembalikannya.

====

SYARAT HARTA WAJIB ZAKAT
1. Milik sempurna (Milkun Taam)
2. Cukup nishab
3. Berlalu satu tahun atau haul (bagi sebagian harta)
4. Harta yang halal
5. Lebih dari kebutuhan pokok (surplus minimum).
6. Berkembang (An Nama)

====

JENIS ZAKAT

1. ZAKAT FITRAH (Nafs)
a. Pengertian
Zakat fitrah adalah zakat (shadaqah) jiwa, istilah tersebut diambil dari kata fitrah yang merupakan asal dari kejadian. Dari Ibnu Umar ra. Beliau berkata : ”Rasulullah saw. Telah memfardhukan zakat fitrah 1 sha’ dari kurma atau gandum atas budak, orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang tua dari seluruh kaum muslimin. Dan beliau perintahkan supaya dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk shalat ‘Ied.” (HR. Bukhori).
b. Besaran yang harus dikeluarkan adalah 2,176 kg.
c. Waktu pembayaran
– Wajib membayar zakat fitrah yaitu ditandai dengan tenggelamnya matahari di akhir bulan Ramadhan.
– Boleh mendahulukan atau mempercepat pembayaran zakat fitrah dari waktu wajib tersebut.

2. ZAKAT HARTA (Maal)
Pengertian
Zakat maal adalah zakat yang dikenakan atas harta (maal) yang dimiliki oleh seseorang atau lembaga dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.

=============================================================

Sumber:
PKPU (Lembaga Kemanusiaan Nasional)

Advertisements

Sambut Romadhon dengan ber-Khitan

Nabi SAW bersabda : “Salah satu yang menjadi fitrah manusia adalah berkhitan.” (HR.Bukhari :143)

REKSA #BerbagiSenyum membuka kesempatan bagi donatur untuk memfitrahkan adik-adik kita, yang Insya Alloh akan di laksanakan di Majlis Ta’lim Hidayatun Mubtadin, Majalengka pada tanggal 29 Juni 2013.

Untuk donasi dapat menghubungi :
08156449563 (Risman)
085720098080 (Nunu) dan
melalui Rekening Mandiri Syariah: (451) No.Rek. 7770004448 a/n Rereongan Kanggo Saderek.

Tetap semangat berbagi 🙂

Fenomena Gerhana (2)

Hal-Hal yang Dianjurkan Ketika Terjadi Gerhana

 

Pertama: Perbanyaklah dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan bentuk ketaatan lainnya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)

 

Kedua: Keluar mengerjakan shalat gerhana secara berjama’ah di masjid.

Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini sebagaimana dalam hadits dari ’Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengendari kendaraan di pagi hari lalu terjadilah gerhana. Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melewati kamar istrinya (yang dekat dengan masjid), lalu beliau berdiri dan menunaikan shalat. (HR. Bukhari no. 1050). Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendatangi tempat shalatnya (yaitu masjidnya) yang biasa dia shalat di situ. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/343)

Ibnu Hajar mengatakan, ”Yang sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah mengerjakan shalat gerhana di masjid. Seandainya tidak demikian, tentu shalat tersebut lebih tepat dilaksanakan di tanah lapang agar nanti lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.” (Fathul Bari, 4/10)

Lalu apakah mengerjakan dengan jama’ah merupakan syarat shalat gerhana? Perhatikan penjelasan menarik berikut.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, ”Shalat gerhana secara jama’ah bukanlah syarat. Jika seseorang berada di rumah, dia juga boleh melaksanakan shalat gerhana di rumah. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,

”Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalatlah.” (HR. Bukhari no. 1043)

Dalam hadits ini, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam tidak mengatakan, ”(Jika kalian melihatnya), shalatlah kalian di masjid.” Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa shalat gerhana diperintahkan untuk dikerjakan walaupun seseorang melakukan shalat tersebut sendirian. Namun, tidak diragukan lagi bahwa menunaikan shalat tersebut secara berjama’ah tentu saja lebih utama (afdhol). Bahkan lebih utama jika shalat tersebut dilaksanakan di masjid karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan shalat tersebut di masjid dan mengajak para sahabat untuk melaksanakannya di masjid. Ingatlah, dengan banyaknya jama’ah akan lebih menambah kekhusu’an. Dan banyaknya jama’ah juga adalah sebab terijabahnya (terkabulnya) do’a.” (Syarhul Mumthi’, 2/430)

 

Ketiga: Wanita juga boleh shalat gerhana bersama kaum pria.

Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata,

“Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: ‘Kenapa orang-orang ini?’ Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, ‘Subhanallah (Maha Suci Allah).’ Saya bertanya: ‘Tanda (gerhana)?’ Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.” (HR. Bukhari no. 1053)

Bukhari membawakan hadits ini pada bab:

”Shalat wanita bersama kaum pria ketika terjadi gerhana matahari.”

Ibnu Hajar mengatakan,

”Judul bab ini adalah sebagai sanggahan untuk orang-orang yang melarang wanita tidak boleh shalat gerhana bersama kaum pria, mereka hanya diperbolehkan shalat sendiri.” (Fathul Bari, 4/6)

Kesimpulannya, wanita boleh ikut serta melakukan shalat gerhana bersama kaum pria di masjid. Namun, jika ditakutkan keluarnya wanita tersebut akan membawa fitnah (menggoda kaum pria), maka sebaiknya mereka shalat sendiri di rumah. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/345)

 

Keempat: Menyeru jama’ah dengan panggilan “ash sholatu jaami’ah” dan tidak ada adzan maupun iqomah.

Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan,

“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim no. 901)

Dalam hadits ini tidak diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dan iqomah. Jadi, adzan dan iqomah tidak ada dalam shalat gerhana.

 

Kelima: Berkhutbah setelah shalat gerhana.

Disunnahkah setelah shalat gerhana untuk berkhutbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Ishaq, dan banyak sahabat (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/435). Hal ini berdasarkan hadits:

Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak. Setelah itu beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”

Nabi selanjutnya bersabda, ”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari, no. 1044)

Khutbah yang dilakukan adalah sekali sebagaimana shalat ’ied, bukan dua kali khutbah. Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Imam Asy Syafi’i. (Lihat Syarhul Mumthi’, 2/433)

 

Tata Cara Shalat Gerhana

Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua raka’at dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai tata caranya.

Ada yang mengatakan bahwa shalat gerhana dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada sekali ruku’, dua kali sujud. Ada juga yang berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada dua kali ruku’, dua kali sujud. Pendapat yang terakhir inilah yang lebih kuat sebagaimana yang dipilih oleh mayoritas ulama. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/435-437)

Hal ini berdasarkan hadits-hadits tegas yang telah kami sebutkan:

“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim no. 901)

“Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.” (HR. Bukhari, no. 1044)

 

Ringkasnya, agar tidak terlalu berpanjang lebar, tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut:

[1] Berniat di dalam hati dan tidak dilafadzkan karena melafadzkan niat termasuk perkara yang tidak ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam juga tidak pernah mengajarkannya lafadz niat pada shalat tertentu kepada para sahabatnya.

[2] Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.

[3] Membaca do’a istiftah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaherkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah:

”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjaherkan bacaannya ketika shalat gerhana.” (HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)

[4] Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya.

[5] Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ’SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD’

[6] Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.

[7] Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.

[8] Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).

[9] Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.

[10] Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.

[11] Salam.

[12] Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak. (Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 349-356, Darul Fikr dan Shohih Fiqih Sunnah, 1/438)

 

Nasehat Terakhir

Saudaraku, takutlah dengan fenomena alami ini. Sikap yang tepat ketika fenomena gerhana ini adalah takut, khawatir akan terjadi hari kiamat. Bukan kebiasaan orang seperti kebiasaan orang sekarang ini yang hanya ingin menyaksikan peristiwa gerhana dengan membuat album kenangan fenomena tersebut, tanpa mau mengindahkan tuntunan dan ajakan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika itu. Siapa tahu peristiwa ini adalah tanda datangnya bencana atau adzab, atau tanda semakin dekatnya hari kiamat. Lihatlah yang dilakukan oleh Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam:

Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menuturkan, ”Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa.”

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda, ”Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya. Gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Akan tetapi Allah menjadikan demikian untuk menakuti hamba-hamba-Nya. Jika kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan memohon ampun kepada Allah.” (HR. Muslim no. 912)

An Nawawi rahimahullah menjelaskan mengenai maksud kenapa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam takut, khawatir terjadi hari kiamat. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan beberapa alasan, di antaranya:

Gerhana tersebut merupakan tanda yang muncul sebelum tanda-tanda kiamat seperti terbitnya matahari dari barat atau keluarnya Dajjal. Atau mungkin gerhana tersebut merupakan sebagian tanda kiamat. (Syarh Muslim, 3/322)

Hendaknya seorang mukmin merasa takut kepada Allah, khawatir akan tertimpa adzab-Nya. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam saja sangat takut ketika itu, padahal kita semua tahu bersama bahwa beliau shallallahu ’alaihi wa sallam adalah hamba yang paling dicintai Allah. Lalu mengapa kita hanya melewati fenomena semacam ini dengan perasaan biasa saja, mungkin hanya diisi dengan perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia, bahkan mungkin diisi dengan berbuat maksiat. Na’udzu billahi min dzalik.

Demikian penjelasan yang ringkas ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Semoga kaum muslimin yang lain juga dapat mengetahui hal ini. Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dapat beramal sholih dan semoga kita selalu diberkahi rizki yang thoyib.

 

========================================================

 

Sumber:

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/seputar-gerhana-matahari-2.html

 

Fenomena Gerhana (1)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 190-191)

======================================================

Gerhana adalah fenomena astronomi yang terjadi pada sebuah benda angkasa yang bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain.

Gerhana Bulan adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan. Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan ini hanya terjadi pada saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya. Adapun Gerhana Matahari adalah peristiwa terhalangnya cahaya Matahari oleh Bulan sehingga tidak semuanya sampai ke Bumi dan selalu terjadi pada saat fase bulan baru. Namun, gerhana juga terjadi pada fenomena lain yang tidak berhubungan dengan Bumi atau Bulan, misalnya pada planet lain dan satelit yang dimiliki planet lain.

Sifat Matahari dan Bulan

Dengan sains, kita bisa lebih banyak mempelajari ayat-ayat-Nya di alam ini. Gerhana memberi banyak bukti bahwa alam ini ada yang mengaturnya. Allah yang mengatur peredaran benda-benda langit sedemikian teraturnya sehingga keteraturan tersebut bisa diformulasikan untuk prakiraan.

“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS. Ibrahim: 33)

Matahari dan bulan beredar pada orbitnya masing-masing, bagaimana bisa menyebabkan gerhana? Pada awalnya orang-orang menganggap bumi diam, bulan dan matahari yang mengitari bumi dalam konsep geosentris. Kemudian berkembang pemahaman matahari yang diam sebagai pusat alam semesta, benda-benda langit yang mengitarinya, dalam konsep heliosentris. Bulan dan matahari juga dianggap  punya cahayanya masing-masing. Tetapi Al-Quran memberi isyarat, bahwa walau terlihat sama bercahaya, sesungguhnya bulan dan matahari berbeda sifat cahayanya dan gerakannya.

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Yunus: 5)

Ayat ini bukan hanya mengungkapkan perbedaan sifat cahaya bulan dan matahari, tetapi juga perbedaan geraknya. Perbedaan orbitlah yang menyebabkan matahari tampak tidak berubah bentuknya, sedangkan bulan berubah-ubah bentuknya sebagai perwujudan perubahan tempat kedudukannya (manzilah-manzilah) dalam sistem bumi-bulan-matahari. Kini sains bisa mengungkapkan sifat gerak dan sumber cahaya bulan dan matahari.

Gerak harian bulan dan matahari, terbit di Timur dan terbenam di Barat, hanya merupakan gerak semu. Karena sesungguhnya bumilah yang bergerak. Bumi berputar pada porosnya sekali dalam sehari sehingga siang dan malam silih berganti dan benda-benda langit pun tampak terbit dan terbenam, seperti hanya bulan dan matahari. Sesungguhnya gerak yang terjadi bukan hanya bumi yang berputar pada porosnya, tetapi juga bulan dan matahari beredar pada orbitnya. Bulan mengorbit bumi, sementara bumi mengorbit matahari, dan matahari pun tidak diam, tetapi bergerak juga mengorbit pusat galaksi. Cahaya matahari berasal dari reaksi nuklir di intinya, sedangkan bulan berasal dari pantulan cahaya matahari. Efek gabungan sudut datang cahaya matahari dan sudut tampak dari permukaan bumi menyebabkan bulan tidak selalu tampak bulat, tetapi berubah-ubah dari bentuk sabit ke purnama yang bulat, dan kembali lagi ke sabit tipis seperti pelepah kering.

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam, Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk pelepah yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yaasiin: 37-40)

Walau tampak matahari dan bulan berjalan pada jalur yang sama, tidak mungkin keduanya bertabrakan atau saling mendekat secara fisik, karena orbitnya memang berbeda. Perjumpaan bulan dan matahari saat gerhana matahari hanyalah ketampakkannya, ketika matahari tampak terhalang oleh bulan yang berada di antara matahari dan bumi. Dan pada saat gerhana bulan, bulan dan matahari berada pada posisi yang berseberangan sehingga cahaya matahari yang mestiny mengenai bulan, terhalang oleh bumi. Bulan purnama menjadi gelap karena bayangan bumi.

Bentuk sabit bulan selama perubahan manzilah-manzilah (fase-fase) bulan menunjukkan bahwa bulan itu berbentuk bulat. Lengkungan sabit dibentuk oleh lengkungan bulan yang berbentuk seperti bola. Lalu mengapa pada saat gerhana bulan terlihat juga bentuk lengkungan selama proses gerhana sebagian? Lengkungan kegelapan gerhana itu menjadi bukti bahwa bumi kita juga bulat. Karena sesungguhnya pada saat terjadi gerhana bulan, bayangan bumilah yang menutupi permukaan bulan. Lengkungan pada saat gerhana tidak terlalu melengkung karena lingkaran bayangan bumi di bulan beberapa kali lebih besar dari lingkaran piringan bulan.

Banyak aspek bisa kita pelajari dari gerhana bulan. Tingkat kegelapan saat gerhana bulan juga menjadi indikator kualitas atmosfer yang bayangannya tampak pada peralihan terangnya purnama dan gelapnya bayangan bumi. Bila cahayanya jernih putih kekuningan dan batas antara gelap dan terang terlihat sangat nyata, itu mengindikasikan atmosfer bumi relatif bersih dari debu. Namun bila ada debu letusan gunung berapi yang cukup tebal, maka pada proses gerhana sebagian akan tampak warnanya kemerahan sampai hitam dengan batas gelap-terang yang baur.


Bagaimana Islam menghadapi moment semacam ini? Tentu saja, bukan hanya melewatkannya dengan berfoto-foto ria. Islam punya tuntunan sendiri dalam hal ini sebagaimana yang dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Simak pembahasan berikut ini.

Keyakinan Keliru

Banyak masyarakat awam yang tidak paham bagaimana menghadapi fenomena alami ini. Banyak di antara mereka yang mengaitkan kejadian alam ini dengan mitos-mitos dan keyakinan khurofat yang menyelisihi aqidah yang benar. Di antaranya, ada yang meyakini bahwa di saat terjadinya gerhana, ada sesosok raksasa besar yang sedang berupaya menelan matahari sehingga wanita yang hamil disuruh bersembunyi di bawah tempat tidur dan masyarakat menumbuk lesung dan alu untuk mengusir raksasa.

Ada juga masyarakat yang meyakini bahwa bulan dan matahari adalah sepasang kekasih, sehingga apabila mereka berdekatan maka akan saling memadu kasih sehingga timbullah gerhana sebagai bentuk percintaan mereka.

Sebagian masyarakat seringkali mengaitkan peristiwa gerhana dengan kejadian-kejadian tertentu, seperti adanya kematian atau kelahiran, dan kepercayaan ini dipercaya secara turun temurun sehingga menjadi keyakinan umum masyarakat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membantah keyakinan orang Arab tadi. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)

Memang pada saat terjadinya gerhana matahari, bertepatan dengan meninggalnya anak Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang bernama Ibrahim. Dari Al Mughiroh bin Syu’bah, beliau berkata,

”Di masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari ketika hari kematian Ibrahim. Kemudian orang-orang mengatakan bahwa munculnya gerhana ini karena kematian Ibrahim. Lantas Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalat dan berdo’alah.’” (HR. Bukhari no. 1043)

Ibrahim adalah anak dari budak Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang bernama Mariyah Al Qibthiyyah Al Mishriyyah. Ibrahim hidup selama 18 bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki anak kecuali dari Khadijah dan budak ini. Tatkala Ibrahim meninggal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetaskan air mata dan begitu sedih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan ketika kematian anaknya ini,

”Air mata ini mengalir dan hati ini bersedih. Kami tidak mengatakan kecuali yang diridhoi Allah. Sungguh -wahai Ibrahim-karena kepergianmu ini, kami bersedih.” (HR. Bukhari no. 1303) (Lihat Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom, 2/305, Darul Atsar, cetakan pertama, 1425 H)

Itulah keyakinan-keyakinan keliru yang seharusnya tidak dimiliki seorang muslim ketika terjadi fenomena semacam ini. Selanjutnya kami akan menjelaskan mengenai gerhana, shalat gerhana dan hal-hal yang mesti kita lakukan ketika itu. Kami tidak ingin berpanjang-panjang lebar mengenai hal ini. Kami cukup menyampaikan secara ringkas, sehingga pembaca bisa lebih mudah memahami.

 

Apa yang Dimaksud Dengan Gerhana Matahari?

Kalau dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang pernah kita pelajari dahulu, fenomena gerhana matahari adalah seperti pada gambar ini.

gerhana

Posisi gerhana matahari adalah bulan berada di tengah-tengah antara matahari dan bumi. Jadi, bulan ketika itu menghalangi sinar matahari yang akan sampai ke bumi. Ini gambaran singkat mengenai gerhana matahari.

Menurut pakar bahasa Arab, mereka mengatakan bahwa kusuf adalah terhalangnya cahaya matahari atau berkurangnya cahaya matahari disebabkan bulan yang terletak di antara matahari dan bumi. Inilah yang dimaksud gerhana matahari. Sedangkan khusuf adalah sebutan untuk gerhana bulan. (Al Mu’jamul Wasith, hal. 823)

Jadi ada dua istilah dalam pembahasan gerhana yaitu kusuf dan khusuf. Kusuf adalah gerhana matahari, sedangkan khusuf adalah gerhana bulan.

Definisi yang tepat jika kita katakan: Kalau kusuf dan khusuf tidak disebut berbarengan maka kusuf dan khusuf bermakna satu yaitu gerhana matahari atau gerhana bulan. Namun kalau kusuf dan khusuf disebut berbarengan, maka kusuf bermakna gerhana matahari, sedangkan khusuf bermakna gerhana bulan. (Lihat Syarhul Mumthi’ ’ala Zadil Mustaqni’, 2/424, Dar Ibnul Haitsam)

Pendapat Syaikh Ibnu Utsaimin inilah yang akan ditemukan dalam beberapa hadits. Kadang dalam suatu hadits menggunakan kata khusuf, namun yang dimaksudkan adalah gerhana matahari atau gerhana bulan karena khusuf pada saat itu disebutkan tidak berbarengan dengan kusuf.

 

Wajib atau Sunnahkah Shalat Gerhana?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum shalat gerhana matahari adalah sunnah mu’akkad (sunnah yang sangat ditekankan). Namun, menurut Imam Abu Hanifah, shalat gerhana dihukumi wajib. Imam Malik sendiri menyamakan shalat gerhana dengan shalat Jum’at. Kalau kita timbang-timbang, ternyata para ulama yang menilai wajib memiliki dalil yang kuat. Karena dari hadits-hadits yang menceritakan mengenai shalat gerhana mengandung kata perintah (jika kalian melihat gerhana tersebut, shalatlah: kalimat ini mengandung perintah). Padahal menurut kaedah ushul fiqih, hukum asal perintah adalah wajib. Pendapat yang menyatakan wajib inilah yang dipilih oleh Asy Syaukani, Shodiq Khoon, dan Syaikh Al Albani rahimahumullah.

 

Para Ulama Berbeda Pendapat Mengenai Hukum Shalat Gerhana Bulan

Pendapat pertama menyatakan bahwa hukum shalat gerhana bulan adalah sunnah mu’akkad sebagaimana shalat gerhana matahari (ini bagi yang menganggap shalat gerhana matahari adalah sunnah mu’akkad, pen) dan dilakukan secara berjama’ah. Inilah pendapat yang dipilih oleh Asy Syafi’i, Ahmad, Daud, dan Ibnu Hazm. Pendapat ini juga dipilih oleh ’Atho’, Al Hasan, An Nakho’i dan Ishaq, bahkan pendapat ini diriwayatkan pula dari Ibnu ’Abbas.

Pendapat kedua yang menyatakan bahwa hukum shalat gerhana bulan adalah sunnah seperti shalat sunnah biasa yaitu dilakukan tanpa ada tambahan ruku’ (lihat penjelasan mengeanai tata cara shalat gerhana selanjutnya, pen). Menurut pendapat ini, shalat gerhana bulan tidak perlu dilakukan secara berjama’ah. Inilah pendapat Abu Hanifah dan Malik.

Manakah yang lebih kuat? Pendapat pertama dinilai lebih kuat, karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan untuk shalat ketika melihat kedua gerhana tersebut tanpa beliau bedakan (Lihat pembahasan ini di Shohih Fiqh Sunnah, 1/432-433, Al Maktabah At Taufiqiyah). Juga ada dalil yang mendukung pendapat pertama tadi. Dalilnya adalah:

”Jika kalian melihat kedua gerhana yaitu gerhana matahari dan bulan, bersegeralah menunaikan shalat.” (HR. Bukhari no. 1047)

Kita kembali lagi pada pembahasan di atas. Kami nilai sendiri bahwa shalat gerhana adalah wajib sebagaimana yang juga dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin dalam Syarhul Mumthi’.

Kalau ada yang mengatakan bahwa shalat yang wajib itu hanyalah shalat lima waktu saja. Maka para ulama yang menyatakan wajibnya shalat gerhana akan menyanggah, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menyebut shalat lima waktu itu wajib karena shalat tersebut berulang di setiap waktu dan tempat (maksudnya: shalat lima waktu adalah shalat yang diwajibkan setiap saat dan bukan karena sebab, pen). Adapun shalat gerhana dan tahiyatul masjid (bagi yang menilai hukum shalat tahiyatul masjid adalah wajib) atau shalat semacam itu, maka shalat-shalat ini wajib karena ada sebab tertentu. Maka shalat-shalat ini bukan seperti shalat wajib mutlaq (maksudnya: berbeda dengan shalat lima waktu). Misalnya saja ada seseorang bernadzar akan menunaikan shalat dua raka’at. Shalat karena nadzar ini wajib dia kerjakan walaupun shalat tersebut bukan shalat lima waktu. Shalat ini wajib dikerjakan karena sebab dia bernadzar. Jadi, shalat yang wajib karena sebab tertentu tidak seperti shalat wajib muthlaq yang tanpa sebab.”

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, ”Inilah pendapat yang kami nilai kuat. Namun sangat disayangkan orang-orang malah lebih senang melihat fenomena gerhana matahari atau gerhana bulan dan mereka tidak memperhatikan kewajiban yang satu ini. Semua hanya sibuk dengan dagangan, hanya berfoya-foya atau sibuk di ladang. Kami takutkan, mungkin saja gerhana ini adalah tanda diturunkannya adzab sebagaimana yang Allah takut-takuti melalui gerhana ini. Kesimpulannya, pendapat yang menyatakan wajib lebih kuat daripada yang menyatakan sekedar dianjurkan.” (Lihat penjelasan yang sangat menarik ini di Syarhul Mumthi’, 2/429)

Jadi bagi siapa saja yang melihat gerhana, maka dia wajib menunaikan shalat gerhana. Wallahu a’lam, wal ’ilmu ’indallah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk melaksanakannya.

 

Waktu Pelaksanaan Shalat Gerhana

Waktu pelaksanaan shalat gerhana adalah mulai ketika gerhana muncul sampai gerhana tersebut hilang.

Dari Al Mughiroh bin Syu’bah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya, berdo’alah pada Allah, lalu shalatlah hingga gerhana tersebut hilang (berakhir).” (HR. Bukhari no. 1060 dan Muslim no. 904)

Shalat gerhana juga boleh dilakukan pada waktu terlarang untuk shalat. Jadi, jika gerhana muncul setelah Ashar, padahal waktu tersebut adalah waktu terlarang untuk shalat, maka shalat gerhana tetap boleh dilaksanakan. Dalilnya adalah:

”Jika kalian melihat kedua gerhana matahari dan bulan, bersegeralah menunaikan shalat.” (HR. Bukhari no. 1047).

Dalam hadits ini tidak dibatasi waktunya. Kapan saja melihat gerhana termasuk waktu terlarang untuk shalat, maka shalat gerhana tersebut tetap dilaksanakan.

======================================================

Sumber:

http://salmanitb.com/2011/06/shalat-gerhana-antara-mitos-aqidah-islam-dan-sains-intisari-khutbah/

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/seputar-gerhana-matahari.html

Momen Penting dengan Sang Pencipta

Pada siang itu pasien yang berkunjung ke RS banyak. Tak terasa saat sibuk bekerja dari pagi, adzan dzuhur terdengar. Segera aku dan para jemaah lainnya menuju masjid, tempat asal dari suara panggilan solat. Menghilangkan lelah sejenak sambil duduk dan melepas sepatu. Dari kejauhan kulihat pasangan kakek dan nenek berjalan ke arah masjid. Kakek renta yang sedang dituntun jalan sang nenek yang terlihat lebih muda dan bugar.
 
Karena di masjid tempat wudhu pria dan wanita dipisah, nenek itupun berkata pada sang kakek agar ia berjalan sendiri saja ke tempat wudhu. Serasa janggal dengan apa yang aku lihat. Kakek itu hanya diam dan sang nenek segera menuju ke tempat wudhu wanita. “Kenapa kakek itu diam saja yah?” pikirku. Aku langsung mendekatinya dan menawarkan bantuan. Subhanallah, ternyata kakek itu seorang tunanetra.
 
“Ayo kek biar saya antar berwudhu.” Sambil aku menyimpan tasnya dan menyuruhnya memegang tanganku. Dengan perlahan dan hati-hati aku menuntunnya sampai beliau selesai. Kakek itupun segera aku arahkan untuk mengisi shaf depan dan paling samping dekat tembok agar bisa sedikit memudahkan ia menghafal jalan. Saat akan melaksanakan solat sunah qobla, saya berhenti dulu karena mendengar kakek itu memanggilku. Apa ada yang tertinggal pikirku. Ternyata kakek itu menanyakan tasnya. “Mau saya ambilkan kek?” tanyaku padanya. ”Tidak usah nak, antar aja kakek ambil tasnya keluar.” Akupun kembali menuntunnya keluar menuju tasnya. “Makasih yah nak! Kakek solat disini aja biar nenek gampang nanti kalo nyari kakek. Ade solat di dalam aja, biar kakek sendirian disini juga.”
 
Sambil bicara padaku, kakek itu membuka tasnya. Karena khawatir akupun tetap disitu dan memperhatikan lagi kakek itu. Subhanallah, yang kakek keluarkan dari tasnya adalah sarung, baju koko lengkap dengan pecinya. Segera itu ia mengganti pakaiannya. Jemaah lain merasa aneh karena kakek itu membuka bajunya di depan umum. Hal yang wajar karena kakek itu seorang tunanetra. Mana ia tahu tentang orang yang memperhatikannya buka baju. Yang ia tahu adalah Penciptanya sedang memperhatikan. Inilah waktu untuk berkomunikasi dengan-Nya. Kakek itu ingin tampil dengan pakaian terbaiknya. Inilah momen luar biasa menurutnya.
 
Tak hentinya aku mengucap tasbih. Kakek ini seperti menampakkan kriteria surga padaku. Aku yang masih sering lalai teringat perjuangan kakek itu. Mengutamakan solat berjamaah dan tepat waktu. Tak lupa ia pun tampil dengan pakaian sucinya. Ia merasa inilah waktu yang terpenting. Berkomunikasi dengan Sang Pencipta.
 
 
 
Hadits terkait:
“Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan membutakan kedua matanya dan ia bersabar. Maka Aku akan ganti kedua matanya dengan surga.” (H.R. Ahmad)
 
Subhanallah, semoga kita termasuk golongan yang disayang Allah. Sehingga tak perlulah kita menunggu diuji dengan buta agar kita bisa seperti kakek tadi. Solat jamaah dan tepat waktu serta berpakaian terbaik saat menghadap Sang Pencipta di tiap waktunya.  Aamiin
 

– Handy Dinar Astiansyah –

Etika Jual Beli dalam Islam

Jual beli? Tidak usah dibahas lagi apa artinya. Saya yakin tiap hari kita tidak lepas dari hal ini. Karena itulah kita perlu paham etika jual beli yang baik dalam Islam. Berbicara jual beli, kata pasar tentu berkaitan jelas dengan tema ini. Arti sederhana pasar adalah tempat orang berjual beli. Pernah mendengar salah satu hadits yang menjelaskan bahwa pasar adalah tempat yang paling rentan dalam berbuat dosa? Mengurangi kadar timbangan, menutupi cacat barang dagangan, copet, dan lain sebagainya. Atau ada pengertian jenis pasar yang lain? Yap, tepat sekali. Jauh-jauh hari Rasulullah Muhammad SAW sudah meramalkan bakal seperti ini.

Bila Anda tidak keberatan saya akan mengajak pikiran kita menuju hal yang memang sudah menjadi wajar di hari ini. Yang sering menggunakan internet sudah tak asing lagi dengan browsing, download atau semacamnya. Tentunya pernah kesal melihat orang memajang barang atau jasanya di halaman yang kita browsing. Kira-kira apa yang mereka jual? Iyah bagus, terus-terus ingat! Apa kira-kira yang paling banyak? Tepat sekali, iklan yang hanya pantas untuk dibaca orang dewasa. Atau jika tebakan saya salah, apakah ada yang berpikir tentang iklan bisnis, penggandaan uang (dengan modus saham) atau judi mungkin? Menurut Anda apakah layak tidak ini diiklankan secara terbuka? Saya setuju dengan Anda, ini tidak layak. Yang jadi masalah adalah internet tidak tahu siapa yang melihat iklan ini. Dipukul rata oleh mereka semua sehingga anak-anak pun jadi korbannya. Slogan gaya hidup zaman sekarang adalah teknologi. Mau tak mau anak-anak juga harus bisa menggunakan internet. Tapi yah inilah sisi negatifnya.

Diantara teman sekalian ada pengalaman aneh gak saat download di internet? Pernah ada yang ngalamin bingung karena tombol downloadnya banyak? Ada yang ukurannya gede atau kecil? Betul sekali, kadang tombol yang bener itu yang disembunyikan. Anda akan segera tahu kaitannya dengan jual beli saat Anda salah pijit tombol download yang salah. Tiba-tiba nyambung ke link yang lain, dan ujungnya iklan produk yang memaksa kita harus membacanya. Pernah juga melihat pop-up yang tiba-tiba muncul bertuliskan bahwa Anda pengunjung situs yang beruntung. Kemudian Anda diperintah meng-klik salah satu tombol dan akhirnya nyambung ke iklan lagi. Dengan cara penipuan pula. Astagfirullah..
Itu tadi seputar cerita di dunia maya. Kembali lagi ke dunia nyata. Saya orang Bandung, dan disini jumlah mobil angkutan umum begitu banyak. Sekitar 40 trayek dalam kota. Miris jika melihat beban yang harus diemban para supir angkutan kota “angkot”. Semakin bersaing dengan jumlah mobil lain yang semakin banyak, tapi penumpang yang banyak beralih ke angkutan pribadi. Yang membuat saya gerah adalah saat dulu saya tiap hari naik angkot. Tiap hari saya melihat transaksi jual beli yang tidak wajar. Tak ada ijab kabul. Saling melempar barang dan penjual memaksa orang lain membelinya. Fenomena ini terjadi di lampu merah. Saat angkot berhenti tiba-tiba seseorang menghampiri angkot dan melemparkan barang dagangannya ke dashboard mobil. Macam-macam sih dagangannya, ada yang jual permen, jajanan pasar, tisu, dan yang paling sering air mineral. Dengan wajah tanpa dosa si penjual membuka telapak tangannya dalam posisi meminta. Padahal supir angkot tidak berkenan jadi pembeli. Tapi ia terpaksa memerankannya. Cari aman aja katanya.

Tahukah kawan jika hal ini dibiarkan, rezeki yang tidak barokah akan berputar. Penjual yang memaksa tadi mungkin ada yang berkewajiban menafkahi istri dan anaknya. Dan apa yang mereka makan? Uang dari hasil jual beli yang tidak berkah. Masuk ke dalam tubuh jika dibelanjakan makanan. Menjadi darah dan daging yang melekat seumur hidup. Istri dan anak tidak tahu itu semua. Tapi apa jadinya bangsa kita jika anak-anak sebagai generasi penerus harus mengalami ini. Astagfirullah..

Hadits terkait:
“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasar.” (H.R. Muslim)

“Rasulullah SAW melarang sistem jual beli mulamasah (wajib membeli jika pembeli menyentuh barang dagangan) dan munabadzah (sistem barter antara dua orang dengan melemparkan barang dagangannya masing-masing tanpa memeriksanya).” (H.R. Muslim)

Astagfirullah.. Mudah-mudahan kita senantiasa diberi jalan mencari rezeki dengan cara yang baik, membelanjakannya juga pada hal yang baik. Serta setiap waktunya rezeki kita disucikan dengan zakat, infaq dan sodaqoh. Aamiin..

– Handy Dinar Astiansyah –

Sepenggal Perjalanan Tim #REKSApeduli di Kab. Karawang (19-20 Januari 2012)

Assalamu ‘alaikum,

Dengan diawali dengan ucapan “Bismillahirrohmaanirrohiim”, pada tanggal 19 Januari 2013 kami Komunitas Rereongan Kanggo Saderek (REKSA) melakukan perjalanan ke Kab. Karawang  dalam rangka menyampaikan  amanah  dari para donatur kami untuk adik kita Yulia, anak berumur 9 tahun yang menderita gizi buruk dengan berat badan hanya 5,6 kg.

Pulul 19.00, tim #REKSApeduli sebanyak 13 (tiga belas) orang sukarelawan bertolak dari RSUP. Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan menggunakan dua unit mobil. Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, pintu gerbang tol Karawang Timur menyambut kami dengan segala ke-“hareudang”-annya”.

Tidak jauh dari pintu tol tersebut, kami memutuskan untuk rehat sejenak dari perjalanan untuk mampir ke warung nasi terdekat sambil menunggu relawan kami di Karawang menjemput. Suasana ini kami nikmati bersama. Setelah semua merasa nyaman, perjalanan dilanjutkan menuju rumah salah satu relawan kami yang sekaligus informan bagi kegiatan Tim #REKSApeduli di Karawang. Saad namanya. Ternyata disana berdiri sebuah Pondok Yatim bernama Yayasan Lampu Iman yang beralamatkan di jalan DR. Taruno no. 20. Sungguh hal yang tidak kami sangka bisa sekaligus bersilaturahmi dengan adik-adik panti. Keadaan disana sangat sibuk, kebetulan tempat tersebut dijadikan Posko pengungsian korban banjir di sebagian wilayah Karawang.

1tiba1

Sebuah saung di tengah pondok menjadi rebutan kami setiba disana untuk sekedar merebahkan badan yang letih. Kami tiba disana sekitar pukul 22.30 dan di sambut dengan baik oleh orang tuanya Saad yang merupakan salah satu pengurus Yayasan Lampu Iman.

1tiba2

Kami pun beralih ke sebuah ruangan yang menjadi tempat untuk bermalam. Sebelum memejamkan mata, tim #REKSApeduli mengadakan riungan dadakan mengingat situasi dan kondisi di Karawang saat itu memaksa untuk sedikit mengubah rencana awal. Sebelumnya kami hanya berencana untuk mengunjungi adik Yulia saja.

Sebagai informan, Saad menjelaskan kondisi terkini disana. Selain adik Yulia yang kabarnya sudah tim ketahui sejak jauh-jauh hari di Bandung, korban banjir pun harus menjadi perhatian kami. Tidak hanya itu, ada seorang anak yang mengalami keterhambatan pertumbuhan sedang dirawat di RSUD Karawang perlu uluran tangan.

Ketua tim #REKSApeduli, Firman menjelaskan tahapan-tahapan kegiatan untuk esok hari. Mulai dari rute, jenis bantuan dan santunan yang akan diberikan. Untuk mempercepat pemberian keputusan, tim memecahkan masalah ini bersama-sama.

Malam pun semakin larut, semua mata hampir tenggelam. Tidur dulu yuks..!

————————————————————————————————

Minggu pagi selepas menunaikan Sholat Shubuh, sebagian dari kami berbelanja ke pasar dan swalayan terdekat untuk membeli kebutuhan yang nantinya akan diberikan kepada saudara-saudara kita disana. Infaq ini kami pecah kedalam bentuk santunan nominal dan sembako. Semoga berkenan.

2packing1

Kebutuhan yang sudah kami beli, kami kemas berdasarkan peruntukannya sekitar pukul 07.00. Kebutuhan pertama untuk korban banjir. Tim #REKSApeduli menyiapkan beras, mie instan dan pakaian layak pakai. Kebutuhan kedua untuk An. Yulia yang menderita gizi buruk, kami siapkan susu, bubur bayi dan pampers serta sembako dan perlengkapan mandi. Kebutuhan untuk An. Yulia ini kami siapkan dengan asumsi pemakaian untuk satu bulan. Kebutuhan terakhir untuk An. Novianti yang dirawat di RSUD Karawang, berupa susu.

2packing2

Pengemasan ini kami lakukan secara gotong-royong dengan semangat tinggi.

2packing3

Pengemasan pun selesai. Bantuan siap kami antar dengan rute pertama mengunjungi korban banjir yang berada di pinggir sungai Ci Tarum yang meluap pada hari Jum’at (18/1). Kedua, mengunjungi An. Yulia yang berada di daerah Cukang Galeuh, RT. 18, RW.05, Desa Sindang Sari, Kec. Kutawaluya. Dan terakhir, tim #REKSApeduli akan ke RSUD Karawang, mengunjung An. Novianti.

Semua bantuan ini kami angkut ke dalam tiga unit kendaran roda empat. Salah satunya sedan.

3banjir1

Sepanjang jalan kami lihat rumah-rumah dan lahan yang terkena banjir, menyisakan genangan lumpur yang sangat tebal.

3banjir2

Pada pukul 09.00 tim #REKSApeduli tiba di salah satu Posko banjir. Posko ini berada di Masjid Jami Kp. Sumedangan, Karawang. Bantuan kami serahkan kepada salah satu sesepuh di sana. Penduduk menyebutnya Pa Haji. Beliau menjelaskan bagaimana banjir menerjang kampung mereka. Semoga bantuan ini bermanfaat bagi mereka. Aamiin.

4jalan1

Setelah selesai dan bantuan pun tersampaikan, tim #REKSApeduli melanjutkan perjalanan menuju Kec. Kutawaluya. Sepanjang perjalanan kami lihat sawah-sawah yang sebelumnya hijau dan menguning, kini berubah jd lautan air. Medan yang kami lalui tidaklah mulus, sebagian jalan hancur karena air.

4jalan2

Pukul 11.00, tim #REKSApeduli tiba di Puskesmas Pembantu Desa Sindang Sari, Kec. Kutawaluya. Kami menjelaskan maksud kedatangan tim #REKSApeduli di daerah mereka, sekaligus meminta izin dan memohon untuk diantar menuju rumah An. Yulia. Alhamdulillah sambutan mereka sangat baik sekali. Hal yang tidak diduga adalah ketika beberapa orang perangkat desa bersedia mengantar kami. Diantaranya: perangkat kelurahan, dokter dan bidan desa.

Medan yang sulit menyebabkan mobil sedan yang kami bawa terpaksa kami parkir di Puskesmas tersebut mengingat rute perjalanan cukup jauh. Sebagian dari kami beralih ke kendaraan operasional desa.

5yulia1

Pukul 11.40, tim #REKSApeduli tiba di Cukang Galeuh tempat An. Yulia tinggal. Iring-iringan kami mendapat perhatian yang luar biasa dari penduduk setempat. Menurut keterangan dari tetanganya, rumah An. Yulia terbagi dua bagian yang ditempati oleh dua KK (Kepala Keluarga). Keluarga Abah Ekek (Abah Ekek, nenek Rasem dan An. Yulia yang telah yatim piatu) dan keluarga anak yang lain dari Abah Ekek (Samih, suami dan anaknya).

Setibanya tim #REKSApeduli beserta perangkat desa di depan rumah An. Yulia, sang nenek pun segera keluar menggendong An. Yulia dan menempatkannya berbaring di golodog (teras) rumah yang terbuat dari kayu.

5yulia2

An. Yulia pun menangis, rupanya dia ingin minum susu. Dengan keadan seperti itu, dia tidak bisa memakan nasi, hanya susu dan bubur bayi yang bisa masuk. Setelah diberi susu, dia tetap menangis karena yang diberikan susu cokelat. Hanya ada itu yang dia punya, itu pun sisa dari donator lain ketika masih dirawat di rumah sakit. Rupanya dia tidak suka dengan susu cokelat, hanya susu putih yang dia suka. Alhamdulillah, susu yang kami bawa adalah susu putih. Salah satu dus bantuan yang berisi susu langsung kami buka dan di-susu-kan ke An. Yulia. Dia pun berhenti dari nangisnya.

Tim #REKSApeduli berbincang-bincang dengan penduduk  setempat yang dipimpin oleh seorang kader daerah itu bersama perangkat desa, dokter dan bidan setempat.  Kami pun menjelaskan tentang identitas kami. Kami hanya komunitas kecil, tapi kami memiliki kepedulian tinggi membantu sesama. Amanat ini harus kami sampaikan dengan sebaik-baiknya.

Bantuan kami serahkan, semoga berguna dan dimanfaatkan oleh keluarga An. Yulia dengan sebaik-baiknya. Abah Ekek pun keluar rumah untuk menerima bantuan dari kami sambil di papah oleh warga.

5yulia3

Sesaat setelah itu perwakilan tim mencoba masuk ke dalam rumah. Tidak ada listrik, tempat tidur pun seadanya dari beberapa kain yang ditumpuk. Tempat tidur untuk An. Yulia pun tidak ada, hanya ayunan sederhana yang terbuat dari kain sarung yang digantung dengan tali dari kedua ujungnya.

Bantuan yang tim #REKSApeduli berikan berupa santunan nominal, perlengkapan kebersihan dan sembako (perincian bisa di lihat di halaman Laporan pada blog kami).

Kunjungan kami pun terpaksa harus diakhiri. Kebahagiaan kami adalah ketika An. Yulia bisa sembuh. Pukul 12.30 tim #REKSApeduli beserta perangkat desa kembali menuju Puskesmas Pembantu untuk mengambil mobil sedan kami dan melanjutkan perjalanan ke RSUD. Karawang.

6noviyanti

Pukul 14.00 tim #REKSApeduli tiba di RSUD. Karawang dan langsung menuju kamar yang ditempati An. Novianti. Ketika kami berada di pintu kamar, terlihat banyak ibu pengajian yang sedang mendoakan untuk kesembuhannya. Sang ibu pun kami temui dan kami jelaskan identitas kami. Beliau pun sedikit heran dan berterimakasih kepada kami yang telah jauh-jauh atang dari Bandung. An. Novianti terlahir normal seperti bayi pada umumnya, akan tetapi setelah berumur 8 tahun berat badannya tidak bertambah, bahkan semakin menurun. Kini dia berumur 11 tahun dengan berat badan sekitar 10 kg. Menurut keterangan dari ibunya, An. Novianti sering mengalami kejang. Kepadanya, tim #REKSApeduli berikan santunan nominal dan susu.

7evaluasi

Pukul 15.30 tim #REKSApeduli tiba kembali di Yayasan Lampu Iman. Kami adakan riungan kembali untuk mengevaluasi kegiatan kami. Didapatkan kesepakatan untuk mengunjungi kembali An. Yulia sebulan sekali untuk menyambung susu. Insya Alloh.

8pulang1

Pukul 16.30 kami bersiap untuk kembali ke Bandung. Sebelumnya, kami mengunjungi anak-anak di Yayasan Lampu Iman untuk memberikan santunan sekaligus berpamitan dan berterima kasih kepada pengurus yang telah bersedia menampung tim #REKSApeduli selama kami di Karawang. Semoga kebaikannya mendapat pahala dari Alloh SWT. Aamiin.

8pulang2

Alhamdulillah.. Matahari senja pun mengiringi kami pulang menuju Bandung.

————————————————————————————————-

Ucapan terima kasih kepada:

  1. Alloh SWT atas nikmat dan karunia-Nya.
  2. Donatur  atas infaq-nya untuk kegiatan #REKSApeduli di Karawang. Insya Alloh titipan anda sekalian kami sampaikan dengan amanat.
  3. Relawan yang telah bersedia meluangkan waktunya dan memberikan masukan pada tim.
  4. Pengurus Yayasan Lampu Iman yang telah bersedia memberikan tempatnya sebagai tempat istirahat kami selama di Karawang.
  5. Perangkat Desa Sindang Sari, Kec. Kutawaluya, Karawang yang telah bersedia mempertemukan tim dengan An. Yulia dan keluarga.

————————————————————————————————–

Wassalamu ‘alaikum.

#REKSApeduli

penderita gizi buruk

penderita gizi buruk

Assalamu ‘alaikum…


Dibuka peluang infaq u/ An. Yulia yang berusia 9thn, menderita busung lapar dgn berat badan hanya 5kg, yatim piatu, tinggal dgn nenek & kakek yg tunanetra.

Desa. Kutawaluya, Karawang.

Infaq melalui :
Rek. Syariah Mandiri : 7770004448 a/n Rereongan Kanggo Saderek (REKSA)

Contact Person :
085720098080 (nunu)
085795704330 (firman)

Tim #REKSApeduli akan berangkat hari sabtu 19 jan ’13 sore hari.

Bagi yang ingin ikut, dapat menghubungi kontak diatas.

Terima Kasih.